Sengketa Pedagang Tradisional-Modern Muncul Di Kadipaten

Pemkab Dinilai Kurang Hati-hati Memberikan Perizinan
Majalengka, Kompas – Sengketa antara pedagang pasar tradisional dan modern muncul di Majalengka. Ratusan pedagang Pasar Kadipaten, Kabupaten Majalengka, Selasa (5/9), berunjuk rasa di depan kantor bupati dan gedung DPRD. Mereka menolak operasional toko serba ada Surya dan pasar modern yang lokasinya hanya beberapa ratus meter dari pasar tradisional.

Dalam unjuk rasa itu, para pedagang yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Majalengka didampingi aktivis dari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Majalengka, Lingkar Studi Demokrasi (Elsid), dan Barisan Oposisi Rakyat (BOR).

Aksi mereka dimulai sekitar pukul 10.00 di halaman kantor Bupati Majalengka. Dalam orasinya, para pedagang dan aktivis menyatakan, operasional toserba dan pasar modern akan mengancam kelangsungan hidup mereka. Sebab, konsumen pasti lebih tertarik berbelanja ke toserba dan pasar modern yang fasilitasnya lebih bagus dan memberikan kenyamanan. Dalam orasinya, Sekretaris APPSI Dedi Banarji mengatakan, kedekatan jarak antara pasar tradisional dan pasar modern beserta toserba merupakan persaingan yang tidak seimbang.

“Selama ini Presiden SBY selalu bilang supaya pasar tradisional jangan bersaing bebas dengan pasar besar, tetapi pemerintah Majalengka justru melakukan hal sebaliknya,” ujar Dedi berapi-api.

Para pengunjuk rasa juga mempertanyakan izin operasional toserba dan pasar modern. Sebab, pada pertengahan September ini, akan segera dilakukan pembukaan toserba. Dalam aksi di depan kantor bupati, para pedagang bermaksud memberikan uang mainan sebagai simbol sumbangan pendapatan daerah dari pasar tradisional kepada Bupati Tutty Hayati Anwar. Namun, pagar dijaga ketat oleh Satuan Polisi Pamong Praja. Kurang hati-hati

Para pengunjuk rasa melanjutkan aksinya ke gedung DPRD. Di sana, sejak pagi sudah berkumpul ratusan massa dari organisasi massa pemuda yang mendukung pembangunan toserba dan pasar modern. Massa ormas ini berbaris rapat di halaman gedung DPRD, dipimpin Ketua Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila Majalengka Nazar Hidayat. Sempat dikhawatirkan terjadi bentrok antarmassa yang berbeda kepentingan ini. Ratusan petugas keamanan sudah disiagakan untuk mengantisipasi terjadinya keributan. Namun, hingga demo selesai, keadaan tetap terkendali.

Pertemuan antara perwakilan pedagang, anggota DPRD, pihak pengembang, dan ormas pemuda berlangsung alot dan belum menemukan titik temu. Usai pertemuan, Wakil Ketua DPRD Majalengka Sutrisno mengatakan, ada beberapa poin penting dalam pertemuan tersebut.

Beberapa poin itu antara lain PT Cemerlang Raya selaku pengembang agar segera menyelesaikan persyaratan operasional toserba dan pasar modern. Selama izin belum lengkap, tidak diperbolehkan melakukan aktivitas apa pun, baik fisik maupun perdagangan, termasuk pembukaan. DPRD juga minta agar pihak eksekutif bersikap proaktif dalam memfasilitasi pihak yang terkait guna terbangunnya kemitraan antara pedagang di dua pasar. DPRD menilai, ketegangan ini mencuat akibat kekuranghati-hatian pemerintah daerah sehingga Sutrisno meminta agar kasus ini dijadikan pelajaran. “Ke depan kami minta pemda lebih hati-hati lagi dalam menyikapi berbagai macam perizinan terkait dengan investasi di Majalengka,” kata Sutrisno.(LSD)

Sumber : Kompas Rabu, 06 September 2006.

6 Balasan ke Sengketa Pedagang Tradisional-Modern Muncul Di Kadipaten

  1. indra (Planologi UNPAS Bandung) mengatakan:

    memang hal ini sering terjadi di negara kita, pasar tradisional yang notabene di punyai oleh banyak orang (para pedagang) bersain dengan pasar modern yang lebih nyaman namun di kuasai oleh satu kelompok saja (dalam hal ini PT. Cemerlang Raya)..
    Solusi yang terbaik menurut saya adalah adanya relokasi pasar tradisional ke pusat aktivitas penduduk lainnya, misalnya dekat dengan terminal Cideres. kalau saya tidak salah dengar, Kadipaten akan di jadikan daerah agropolitan center, yang mana berfungsi sebagai pusat informasi, distribusi pertanian. seharusnya hal ini di jadikan sebagai potensi bagi pengembangan pasar tradisional di Kadipaten, tinggal kita lihat bagaimana kinerja pemerintah daerah Kabupaten Majalengka setelah adanya masalah ini dan juga adanya potensi yang ada di Kadipaten.
    terima kasih, mohon maap bla ada kesalahan-kesalahan dalam penulisannya.

  2. majalengkamuda mengatakan:

    wah, justru yg di terminal Cideres spt nggak keurus. sepiii pisan. sumbangsih pikiran kirim we ka majalengkamuda@yahoo.com

  3. Puji Jaya mengatakan:

    dh,

    Para bpk/ibi yg merasa didirnya sebagai perwakilan masyarakat khususunya di Mjlka, kami minta sering jalan” ke pelosok kampnug untuk menyelesaikan masalah” yg ada dikampung, kan biasanya masyarakat kecil selalu KALAH……

  4. Ace Dadan mengatakan:

    Met pagi kang…salam buat orang-orang Majalengka yang ada diseputaran area Jabodetabek, mari kenalkan Majalengka pada dunia luar. Jangan cuma jeleknya aja yang nampak kepermukaan….untuk bapak-bapak wakil rakyat konsekwen dong dengan janji-janji anda lihat daerah Bantarujeg selatan sampai dengan Buninegara (kampung saya) mau perbaikan jalan aja dijatahin hanya tiap tahun satu kilometer, gimana mau menyelesaikan masalah….? malahan seolah-olah buat masalah baru. Tinggal nunggu waktunya aja…………nuhun mang!

  5. Panji Surya Presetiyo mengatakan:

    tolong dong…
    kami minta pemimpin yang benar2 merakyat!!
    tidak hanya berjanji, tapi kita butuh bukti.. siapa lagi yang akan membangun Majalengka ini kalau bukan kita sebagai warga pribumi, realisasi dan eksistensi bapak2 sangat kami butuhkan sekarang, intelektualitas dan profesionalitas kepemimpinan sangatlah penting dalam ilmu kepemimpinan dan ketata negaraan… viva Majalengka!!!

  6. Ace Dadab Al-Djumhana mengatakan:

    Met pagi…siang…sore…malemm (*Coret yang tidak perlu) akhir-akhir ini banyak sekali Caleg-Caleg bermunculan, baik foto maupun spanduk ditiap jalan bahkan di tiap gang dipenuhi sepanduk, mirip sekali dengan komunitas bekicot yang gak boleh ada ranting kosong. Tempel….tempel…dan tempel.., begitu juga di Majalengka dari mulai caleg A sampai dengan Z lengkap sudah. Tapi bagaimana dengan kemampuan mereka untuk membawa suara rakyat??? coaba saja lihat buktinya!!! memang Kecap nomor satu semua….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: